Minggu, 30 Januari 2011

Senyum kala Sarapan...


Indonesia memiliki moto Bhineka Tunggal Ika yang intinya: (kalau tidak salah sih waktu SD) yaitu 'berbeda-beda tetapi tetap satu'. Pernyataan ini pastinya sudah tidak asing lagi di telinga rakyat Indonesia. Yah.. memang, asing sih tidak, tapi tetap saja tidak ngena di sebagian besar hati rakyat Indonesia.

Buktinya, ada nih seorang temen saya yang harus putus sama pacarnya gara-gara orang tuanya nggak setuju dia pacaran sama orang yang nggak satu suku sama dia. Walaupun ibu pacarnya itu sebenarnya sukunya sama, cuma karena ayahnya beda ya tetep ga boleh... ckckckck... Udah gitu, masih sering tuh kita denger di beberapa daerah masih aja ada perang, yang katanya perang antar agama... hemmm... Termasuk di tanah leluhur saya di Ambon (sumpah ya, sebagai orang keturunan sana, saya blom pernah loh k sana..). 

Sebenernya apa sih yang menyebabkan orang-orang nggak bisa menerima perbedaan yang ada. Secara saya org psikologi jd saya bilang 'persepsi'. Dasarnya mah pasti itu... kita mempersepsikan apa yang kita punya, apa yang kita yakini, atau berasal dari mana kita, adalah yang paling bener. Jadi selain yang ga ada hubungannya sama kita pasti salah atau jelek atau kurang baik.. yah..., gitu deh pokoknya.. 

2 hal yang perbedaannya teramat jelas di Indonesia: kesatu suku, kedua agama.
Bahas dulu yang pertama ya.. Kalau menurut saya.., perbedaan suku tuh ngebuat kita semakin kaya. Lucu tau ngeliat kita temenan sama temen yang suku n budayanya beda sama kita... kita bisa belajar dari dia hal-hal baru yang belom pernah kita tahu. Malah nih ya.., saya aja mau nikah sama orang yang sukunya beda.. saya pernah bilang ke si mama, "aku mah mau nikah sama orang Jawa atau Batak ah... bosen sama orang Ambon". Kenapa coba? karena yah saya ngerasa kayaknya seru aja kalau beda budaya itu... Ga harus sampai kayak gini juga sih, cuma intinya beda budaya tuh ngebuat hidup lebih bervariasi aja asal kita menyikapi dengan bijak..

Yang kedua beda agama. Ini nih yang susah-susah gampang kalau mau ngasih pendapat. Ngasih pendapat takutnya ntar malah dimarahin... Menurut saya pertentangan antar agama tuh ga perlu ada kok kalau kita bisa saling ngertiin.. Perang yang katanya perang antar agama sebenarnya bukan perang antar 2 golongan agama, tapi perang yang awalnya perang antar 2 orang yang kebetulan berbeda agama (menurut gw.. inget loh..). Jadi nggak ada urusan seharusnya sama agama.. Menurut gw, kita tuh boleh menganggap agama yang kita anut sebagai agama yang paling benar... karena yah.., karena hal inikan makanya kita bisa nentuin agama yang mau kita anut... kalau kita nggak merasa/meyakini agama kita yang paling benar, ngapain juga kita ikutan (sebenarnya bukan agamanya, tapi apa yang kita yakininya, karena agama mah buatan manusia).. 
Agama boleh beda, tapi yang penting kita saling menghargai aja agama yang lainnya, dan nggak maksain orang supaya ikut sama agama yang kita anut.. Tiap orang punya keyakinannya sendiri man.. Walaupun menurut kita, kita paling bener, yaudahlah.. Toh, itu urusan kita masing-masing kan ntarnya kita bakalan masuk surga atau neraka... Itu sih menurut gw.. Hehehe^^

Ngomongin beda agama, gw jadi inget cerita ini.Waktu itu gw n temen-temen lagi mengikuti training yang diadain sama perusahaan pemberi beasiswa. Kami menginap di salah satu hotel di Kuningan. Saat itu kami lagi sarapan.. Tempat makan dipenuhi rombongan kami dan tamu-tamu lain yang juga sedang sarapan.. Sambil makan salah satu teman saya ada yang menyenandungkan hymne kampusnya.. (Kebetulan rombongan kami memang berasal dari berbagai universitas, dan pembicaraan seru ini melibatkan dua universitas swasta yang berlandaskan pada agama yang berbeda.. Yang satu swasta Kristen, yang satu Islam). Setelah teman saya nyanyi, salah seorang teman saya yang lainnya nyeletuk, "itu mars kampus ya?" Dan teman saya tersebut menjawab iya.. Kemudian dia bertanya lagi, "depannya harus pakai kata itu ya?" (maksudnya setiap kali akan menyanyikan hymne kampusnya (swasta Islam) mereka harus mengucapkan kalimat yang berasal dari Al-Qur'an yang saya lupa bunyinya apa.. maaf pisan ya...). Teman saya menjawab iya sambil tersenyum-senyum.. Teman saya yang berasal dari kampus yang sama dengan saya (swasta Kristen) berkata, "Wah, kalau kampus kamu pakai kata itu, berarti kampus kita harus ngomong Haleluya.. Haleluya.. yah sebelum nyanyi Hymne..." Semua orang yang ada di ruang makan tertawa mendengar itu, baik kami yang berasal dari 2 kampus swasta yang berbeda, maupun teman2 kami yang lain serta tamu2 hotel yang saat itu sedang sarapan juga.. 

Kemudian salah satu teman saya (swasta Islam) berkata, " iya yah bener-bener.. Kampus kita kan almamaternya udah sama, cuma gambarnya aja yang beda, yang satu salib yang satu mesjid... kalau ditutupin juga nggak kelihatan.. (kebetulan memang kampus kami memiliki model dan warna jas alamamater yang persis sama, namun hanya lambang di dada kirinya saja yang berbeda).. Sekali lagi, seluruh orang yang ada di ruang makan tertawa lebar..
Kemudian teman saya (swasta Kristen) berkata, " iya bener yah kita kan kampusnya sama (padahal beda), apa kita satuin aja, kubah mesjid tapi di atasnya di kasih salib?" Dan sekali lagi seluruh orang yang ada di tempat itu tertawa.. again n again... 

Obrolan ini akhirnya terhenti karena kami dipanggil untuk memulai mengikuti sesi training.. tapi kami senang dengan pembicaraan kami tersebut paling tidak kami bisa tertawa dan menghibur orang-orang yang ada di ruangan itu, bahkan yang tidak kami kenal.. (secara suara mahasiswa gede banget sampe2 kedengeran orang2 di situ). Selain itu mungkin kami juga menyadarkan mereka bahwa perbedaan itu sebenarnya indah, asalkan kita saling menghargai, dan tidak mudah tersinggung terhadap orang lain.. Dan saya senang, ternyata masih banyak orang memiliki pemikiran yang terbuka, dan tidak tertutup terhadap perbedaan yang ada.. Yah..., seperti mereka yang ada di ruang makan tersebut... Dan satu lagi yang membuat saya senang berada di antara teman-teman saya tersebut (selama 1 tahun kami seringkali bertemu karena event2 yang diadakan perusahaan pemberi beasiswa ini), yaitu saya tidak pernah merasa minder di antara mereka walaupun saya merupakan golongan minoritas, dan mereka selalu menghargai saya dan beberapa teman saya yang berbeda agama dengan mereka.. Indah kan??

Mungkin obrolan kami ini menyinggung beberapa orang yang membaca tulisan ini.., tapi bener deh, saya tidak bermaksud menyinggung agama manapun, dan menyinggung siapapun.. Ini hanya obrolan iseng kami antar mahasiswa/i yang berbeda agama yang menyadari perbedaan tidak harus selalu memecah belah...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar